jump to navigation

Pura-pura jadi orang Jepang Sunday, 7 November 2010

Posted by idJoe™ in Whatever.
trackback

Jumat siang dua hari lalu seperti biasa aku keluar kantor selama istirahat siang untuk mencari makan. Rumah makan tujuan adalah Sakura Suisan (さくら水産)  di dekat stasiun Takada no Baba, yang menyediakan lunch menu dengan harga 500 yen; nasi dan sup miso (味噌汁) boleh tambah sepuasnya. Ruangan tempat makan di Sakura Suisan dibedakan antara orang yang datang sendiri dengan orang yang datang bersama teman. Kebetulan saat itu ruangan untuk tamu individu sudah penuh, jadi mau tidak mau harus ke ruangan dalam yang biasanya diutamakan bagi tamu berdua, bertiga, dst….

Di dalam ruangan itu ada seorang bapak-bapak berusia kira-kira 40 tahunan mengenakan kacamata dan bertampang sedikit Otaku. Tanpa prasangka aneh-aneh aku duduk saja satu meja berhadapan dengan dia, yang kebetulan juga duduk sendiri. Sementara menunggu pelayang yang datang untuk menyerahkan tiket pesanan makanan (Di banyak rumah makan di Jepang, ada sistem prabayar di mana para tamu membeli tiket dengan nama makanan di vending machine), aku mengambil gelas dan membersihkannya dengan tissue – satu hal yang menjadi kebiasaan setelah tinggal di Jakarta selama 7 tahun. Otaku yang duduk di depanku memandangiku seolah apa yang kulakukan adalah hal yang sedikit aneh.

Ketika pelayan lewat, aku panggil dia dan menyerahkan tiket. Setelah pelayan itu pergi, tiba-tiba si bapak Otaku yang duduk di depanku bertanya, “O-kuni wa dochira desu ka?” (Trans: Dari negara mana?) Wah, ada apa nih tiba-tiba ditanya tentang asal. Sebelum menjawab pertanyaan itu, aku teringat peristiwa waktu masih bekerja di perusahaan yang berada di Nishi Nippori, di mana ada seorang berbaju preman yang mengaku polisi tiba-tiba mencegat dan bertanya asal negara, minta diperlihatkan paspor dsb. Juga tentang polisi (kali ini benar-benar polisi dengan mobilnya) yang mencegatku waktu bersepeda di daerah persawahan di hari dan jam kerja, dan tas digeledah, identitas diperiksa. Dengan setengah kaget dan refleks, aku menjawab “E.. Saitama nan desu kedo…” (Trans: Saitama sih…) – Saitama adalah salah satu prefektur di Jepang yang terletak dekat Tokyo.

Setelah aku jawab begitu, buru-buru dia mengalihkan pembicaraan. “ごめん、見間違えました。ここによく来るんですね。ご飯と味噌汁をそこに自分で取ってください。” (Trans: Sorry, salah sangka. Sering datang ke sini kan? Nasi dan sup miso ambil sendiri di situ.) Setelah itu buru-buru dia pergi. (Saat dia bertanya, tampaknya dia sudah selesai makan.) Pheeewww… ada-ada saja… Untung bisa pura-pura jadi orang Jepang. kalau ngga, bakal ditanya macam-macam, tentang kerja (sah atau tidaknya) dll. Akhirnya makananku datang, dan saatnya menikmati makan siang yang tertunda sampai jam 3 sore.

Ingat, jangan ganggu orang lapar yang sedang menunggu makanan ya? Kalau tidak, aku bisa berubah jadi harimau lapar. Tidak cuma bisa berpura-pura jadi orang Jepang.

Winking smile

Comments»

1. Eldi Munggaran - Tuesday, 9 November 2010

emang suka gitu kalo kita sendirian, coba kalo jalan sendirian pake pakean super rapih, ber jas, cenderung ga ditanya-tanya tuh, emang suka sedikit rasis sih kalo sesama asia, giliran gaijin bule ga ditanyain…

2. Lanny - Wednesday, 16 March 2011

WAH jo..bukannya orang jepang itu putih2 bangetttttttyahhh..hohohhohoh..kamu kan coklat abiss kayak akuuu…kl matanya sich dapet banget..sipitttt


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.